Assalamu'alaikum,
Lama sekali saya tidak mengikuti diskusi-diskusi di milis ini.
Postingan-postingan terakhir yang saya baca (selain ttg Aceh) banyak berfokus
pada tulisan Mas Guntur tentang Natal & Kristen, juga sebelumnya tulisan Bang YB
tentang Teologi Inklusif.
Sebenarnya saya menanti-nanti komentar yang agak menyeluruh dan mendasar
mengenai dua tulisan yang sama-sama musykil itu. Tapi mungkin kawan-kawan sedang
pada sibuk jadi belum saya jumpai. Karenanya, saya akan sedikit memberikan
beberapa komentar (dalam postingan2 terpisah) mengenai dua tulisan itu. Mohon
maaf, saat ini saya tidak sedang di dekat buku-buku. Jadi kalau ada beberapa
penyebutan referensi & nukilan yang kurang tepat, tolong dikoreksi.
Di dunia milis seperti ini, bagi saya yang terpenting bukanlah mengomentari
orang, tapi mengomentari gagasan. Yang terpenting bukan “Mas Gun” yang kader NU
atau “Bang YB” yang ketua PWK Persis, tapi bahasan-bahasan tematik yang ada
dalam tulisan beliau berdua, yang terus terang tidak pernah saya bayangkan
bakalan begitu isinya. Artinya, ketika saya mengomentari isi-isi dalam tulisan
ini, dan ketika saya menyalahkan beberapa gagasan dalam tulisan tersebut, sama
sekali bukan berarti saya sedang tidak menghargai sang penulisnya, bukan juga
saya sedang menilai atau menghukumi penulisnya, sebab yang sedang saya komentari
adalah isi tulisan, dan bukan penulis.
Secara global, ada beberapa titik penting yang cukup berpengaruh, yang
melahirkan gagasan dan isi Ucapan Natal ataupun Teologi Inklusif tersebut, yang
kadang-kadang jarang kita cermati. Titik-titik yang memang problem dan akan
berbuah problem2 itu antara lain:
(1) Penggunaan istilah atau ungkapan yang asal lepas dan asal tafsir. Ini
problem terminologi, dan sedihnya, banyak sekali kerancuan yang disebabkan oleh
titik ini.
(2) Generalisasi yang hanya bersumber dari satu dua sampel, padahal sampel yang
minim ini pun belum tentu memiliki nilai representatif.
(3) Kenihilan (atau keminiman) kita dalam membaca turats dan membaca isi
fikiran-fikiran para ulama, maupun umat Islam terdahulu secara umum. Termasuk
juga minimnya kita akan bacaan teks-teks Islam dan sejarah perjalanan umat
Islam. Sehingga yang ngga pernah ada di Quran-Hadits & ngga pernah dikenal Ulama
kita sebut sebagai “esensi Islam”; sementara yang sering disebutkan oleh
Quran-Hadis serta ditegaskan berkali-kali oleh para Ulama di mana mana, kita
sebut sebagai “musuh universalitas”.
Saya beri contoh untuk problem pertama di atas, yaitu tentang problem
terminologi, ini seperti penggunaan istilah “Teologi Inklusif”, “teleransi”,
“mu'amalah”, “agama samawi”, “kehadiran tuhan”, “menerima orang lain”,
“perbedaan”, “ajaran cinta kasih”, “kalimat Tuhan”, “kebersamaan dengan Tuhan”,
dlsb.
Bahkan penggunaan istilah “teologi” dan “Kristen” itu sendiri sebenarnya
sangat-sangat musykil kalau dikaitkan dengan pemahaman awam terhadap dua kata
ini. Teologi berarti Ilmu tentang tuhan (dengan “t” kecil), kemudian sering
digunakan sebagai padanan dari kata Aqidah (ikatan/keyakinan), atau bahkan
Ushuluddin (prinsip2 agama). Padahal, sepanjang saya dulu baca-baca, istilah ini
sebenarnya bersumber dari tradisi pendidikan di intern gereja yang mengakar ke
Yunani kuno, sebagai salah satu fakultas di universitas akademik mereka. Jadi
merupakan pasangan dari Fak. Fisika (Thabi'iyyat), dan Fak. Matematika
(Riyadhiyyat)—di sini Fak. Teologi (Ilahiyyat) merupakan ganti dari Fak.
Filsafat bidang Metafisika—atau merupakan pasangan dari Fak. Hukum (Qanun), Fak.
Kedokteran (Thibb), dan Fak. Funun (Art) yang mencakup Science dan Seni. Seorang
pelajar yang berhasil menamatkan jenjang tinggi awal dan berhak mengajar, akan
mendapat gelar Licence (Lc.)—lucunya, gelar ini sekarang menjadi sangat
islami—dan seseorang yang sudah menyelesaikan jenjang kepakaran ('alimiyyah),
mendapat gelar Doktor. Penyandang gelar ini sudah setingkat dengan Pastur,
Father2 tinggi gereja, dan Rabi-Rabi Yahudi. Mereka sudah berhak menafsiri
“kitab suci” dan mengeluarkan pandangan halal-haram untuk masyarakat—lucunya
juga, para muhaddits, mufassir, adiib, faqiih, dan alim-alim Al-Azhar maupun
universitas2 Islam lainnya mulai rame2 mengganti titel mereka dengan gelar ini.
Jadi, istilah “teologi” ini secara bahasa maupun sejarah sangatlah tidak
simetris dengan istilah “Aqidah”, “Iman”, apalagi “Ushuluddin” dalam Islam.
Inilah mengapa saya yang duduk di Fakultas Ushuluddin tidak begitu “ngeh” jika
nama Fakultas saya diterjemahkan sebagai “Fakultas Teologi”.
Begitu juga dengan istilah “Kristen” (Masihiyyah), secara makna kata sangat
tidak layak kita gunakan sebagai sebutan bagi pengikut ajaran Nasrani, karena
memang konsep-konsep keimanannya sama sekali tidak berkarakter “kristian”,
artinya tidak sesuai dengan ajaran Sang Kristus (Al-Masih = Yesus = Isa a.s.)
yang senantiasa menyerukan Tauhid itu. Karenanya, Al-Quran pun tidak pernah
menyebut mereka sebagai Al-Masihiyyun, ataupun Anshaarul Mashih, kecuali untuk
para hawariyyun yang setia.
Barangkali memang, karena penyebaran model penggunaan istilah-istilah seperti di
atas yang sudah cukup meluas, kita menjadi tidak begitu terbebani secara fokus
untuk melakukan koreksi praktis yang tajam, sepanjang memang sudah dipahami di
luar makna dasarnya. Tapi bagaimanapun, pemahaman-pemahaman (bukan penggunaan)
yang kabur akibat penggunaan terma-terma ini harus ditegaskan, sehingga tidak
rancu (!).
Ini sekedar prolog, titik problem kedua dan ketiga lah yang sebenarnya lebih
dominan dan lebih penting. Saya akan komentari terpisah biar terfokus dan ngga
capek mbacanya... Itu pun kalo mau mbaca… hehe.
alfu salam...
:: NdL ::
(http://groups.yahoo.com/group/insistnet/message/1855)
No comments:
Post a Comment